My Sponsor

Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Januari 2010

Berkaca pada Cinta Siti Nurbaya

. Senin, 18 Januari 2010
0 comments


KOMPAS.com — Pernikahan terpaksa yang dialami Siti Nurbaya, tokoh utama dalam buku Siti Nurbaya karya Marah Rusli, sering kali menjadi olok-olok bagi perempuan yang dijodohkan orangtuanya saat ini. Namun, apakah benar Siti Nurbaya dijodohkan atau dipaksa orangtua untuk menikah dengan saudagar kaya yang berhati jahat?

"Aku tahu Nur, bahwa engkau tidak suka kepada Datuk Maringgih," kata ayahku pada malam itu kepadaku. “Pertama umurnya telah tua, kedua karena rupanya tak elok, ketiga karena tabiatnya yang keji” Selanjutnya sang ayah berkata, “Aku tahu hatimu pada Samsu dan hatinya kepadamu. Aku pun tiada lain, melainkan itulah yang aku cita-citakan dan kuharapkan siang dan malam, yakni akan melihat engkau duduk bersama-sama dengan Samsu kelak, karena ialah jodohmu yang sebanding dengan engkau…Nurbaya, sekali-kali aku tiada berniat, hendak memaksa engkau. Jika tak sudi engkau, sudahlah, tak mengapa. Biarlah harta yang masih ada ini hilang ataupun aku masuk penjara sekalipun, asal jangan bertambah-tambah pula duka citamu…”

Cuplikan di atas memperlihatkan penderitaan ayah Siti Nurbaya, Baginda Sulaiman, saat meminta kesediaan anaknya untuk membantu keluarga mereka keluar dari cengkraman jahat Datuk Maringgih. Sang ayah membujuk Nur untuk membantu mereka karena keinginannya untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi istri dan anaknya jauh lebih besar dari kesedihannya jika melihat keluarganya jatuh di lubang kemiskinan.

Dalam buku yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1922 itu, diceritakan bahwa pada awalnya Nur memang tidak bersedia diminta sang ayah untuk menikahi Datuk Maringgih demi menolong keluarga. Namun, akhirnya Nur bersedia menikah karena tidak tahan melihat sang ayah digiring oleh petugas Belanda. Hal itu bisa terlihat dari sebait cuplikan ini, "…Tatkala kulihat ayahku akan dibawa ke dalam penjara, sebagai seorang penjahat yang bersalah besar, gelaplah mataku dan hilanglah pikiranku dan dengan tiada kuketahui, keluarlah aku, lalu berteriak, "Jangan dipenjarakan ayahku! Biarlah aku menjadi istri Datuk Maringgih!"…

Dari cuplikan-cuplikan di atas, jelas sekali terlihat sebuah perbedaan besar antara dijodohkan, dipaksa, dan terpaksa. Di novel itu, Baginda Sulaiman memang meminta Siti Nurbaya untuk menikah agar bisa membantu dirinya lepas dari jeratan licik Datuk Maringgih, tetapi ia tidak ingin Nur hidup dalam penderitaan karena menikahi Datuk Maringgih. Keputusan akhir tetap diberikan kepada Nur.

Marah Rusli, sastrawan yang juga dokter hewan ini, pun menceritakan betapa beban yang harus ditanggung Siti Nurbaya sangat besar. Rasa cintanya pada kekasih hati, Syamsul Bahri, membuatnya sempat menolak keinginan sang ayah. Namun, meski Baginda Sulaiman menerima keputusan Nur, besarnya rasa cinta Nur kepada orangtua menyebabkan ia merubah keputusan, yaitu persis saat ia melihat sang ayah hendak dibawa ke penjara.

Di masa itu, perjodohan merupakan hal yang wajar. Marah Rusli membalut budaya masyarakat dengan konflik yang sangat menarik. Tak aneh jika kisah ini masih membekas di benak pembaca. Bahkan menjadi olok-olok bagi mereka yang menikah berdasarkan perjodohan. Novel Marah Rusli ini memang bertujuan membebaskan perempuan dari perkawinan yang tidak didasarkan oleh rasa cinta.

Keberadaan novel yang paling tenar di antara novel karya Balai Pustaka lainnya ini mau tidak mau membobol budaya perjodohan yang masih kuat di dalam masyarakat Indonesia. Persoalan yang dikemukakan Marah Rusli dalam karya-karyanya bukan lagi istana-sentris dan hal-hal bersifat fantasi belaka, melainkan gambaran realita masyarakat pada masa itu.

Novel berbalut kisah cinta dan pengorbanan seorang perempuan pada masa itu membuat cerita Siti Nurbaya menjadi kuat. Melalui buah tangannya, dokter hewan itu ingin menyampaikan gagasan tentang kekolotan di kalangan bangsawan yang merugikan, kearifan hidup pada zaman pembaharuan, corak perkawinan ideal, keburukan poligami, serta masalah hubungan laki-laki dan perempuan. Marah Rusli juga seolah-olah ingin menyampaikan reformasi sosial dan mencita-citakan perkawinan tanpa paksaan. (WIK)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Senin, 04 Januari 2010

Novel Salah Asuhan versi Belanda, yang di Indonesia versi yang mana yach...???

. Senin, 04 Januari 2010
0 comments


Lagi baca-baca berita di kompas, ada yang menarik nich.. mungkin bisa jadi bahan tambahan pengetahuan sastra kita... kalau yang selama ini beredar di Indonesia versi yang mana yach..???
ini artikel tulisannya..


"PERJALANAN
sejarah karya sastra Indonesia di masa pemerintahan Belanda sempat naik turun, pasalnya kesempatan mengembangkan kreativitas para sastrawan tetap saja dibatasi. Pembatasan ala pemerintah Belanda pernah terjadi pada karya Abdoel Moeis, Salah Asuhan. Alhasil Balai Pustaka yang kala itu di bawah pimpinan GWJ Drewes nyaris tak bersedia menerbitkan novel tersebut.

Kenapa Salah Asuhan kena "cekal"? Tak lain karena kisah yang pernah dimuat secara bersambung di harian De Express itu dinilai agak kontroversial di mata pemerintah Belanda. Padahal Komisi Bacaan Rakyat - kemudian menjadi Balai Pustaka (BP) - dibikin Belanda untuk membatasi bacaan liar yang diterbitkan penerbit pribumi.

Meski menyatakan pujian terhadap Salah Asuhan sebagai kisah yang memikat, namun Drewes tak bisa menutupi bahwa novel itu mengandung unsur "negatif" yang digambarkan pada tokoh perempuan Belanda. Maka akhirnya penerbitan novel itu perlu dipertimbangkan kembali. Drewes melihat pentokohan yang digambarkan oleh Hanafi terlalu menyudutkan pihak Belanda yang saat itu merupakan penguasa Indonesia. Jika novel tersebut dikeluarkan, dikhawatirkan akan memicu kritikan yang sulit untuk diatasi oleh BP.

Sudah tentu, sebagai direktur BP, Drewes memiliki hak untuk menerbitkan naskah menjadi buku melalui berbagai pertimbangan meskipun sejumlah redaktur pribumi di BP meloloskan karya tersebut dan menilai tidak ada hal negatif yang ada di dalam ceritanya.

Desakan BP dan keinginan Abdoel Moeis agar novelnya diterbitkan menyebabkan ia menyetujui keinginan Drewes, menuliskan kembali naskah baru Salah Asuhan terutama pada Hanafi dan Corie yang menjadi pusat dari seluruh cerita.

Dalam buku Pemahaman Salah Asuhan oleh Jamil Bakar, dijelaskan bahwa pada versi asli yang diterbitkan di harian De Express, Salah Asuhan menceritakan tokoh Corie, wanita Belanda yang menikah dengan pria pribumi bernama Hanafi. Corie diceritakan sebagai wanita pesolek yang senang dengan pergaulan bebas.

Corie bahkan berani main dengan pria lain, padahal berstatus sebagai istri Hanafi. Hanafi sudah tidak tahan dengan perilaku sang istri, ditambah dengan begitu banyak perbedaan di antara mereka, maka muncullah kata cerai. Setelah bercerai, Corie makin terjerumus dalam prostitusi dan akhirnya meninggal dunia karena ditembak mati oleh pelanggannya yang iri.

Sedangkan di novel Salah Asuhan terbitan BP, penggambaran Corie justru dibuat sebaik mungkin. Corie digambarkan sebagai wanita baik bak bidadari. Corie memang pada akhirnya meninggal dunia, tetapi sebagai perempuan terhormat. Sayangnya, kita sudah tidak bisa membaca naskah asli. Jadi naskah yang beredar kini adalah naskah yang sudah mengalami perubahan akibat tekanan pemerintah Belanda.

Meski novel ini merupakan novel perubahan dari naskah aslinya, akan tetapi Abdoel Moeis tetap memberikan pendidikan kepada pembaca saat itu melalui karyanya. Sejumlah telaah tentang Salah Asuhan memperlihatkan bagaimana pentingnya kesadaran berbangsa dan tidak meninggalkan budaya bangsa. Meski Hanafi akhirnya digambarkan sebagai tokoh negatif, pria pribumi yang mencampakkan akar budayanya dan memilih untuk menjadi warga kulit putih, namun Hanafi tetap membawa pesan moral.

Novel Salah Asuhan ditulis awal tahun 1927 ketika Abdoel Moeis sudah meninggalkan kegiatan politiknya dalam Sarekat Islam (1912-1924) dan menjadi petani di Garut sejak tahun 1924. Naskah asli Salah Asuhan dikirim ke BP oleh Abdoel Moeis pada tahun 1928. Novel ini dipengaruhi oleh faktor sosial dan politik serta kultural. (WIK)"

Klik disini untuk melanjutkan »»
 
{nama-blog-anda} is proudly powered by Blogger.com | Template by Agus Ramadhani | o-om.com