My Sponsor

Rabu, 06 Januari 2010

Inilah Spesifikasi Nexus One, "Superphone" Buatan Google

. Rabu, 06 Januari 2010
1 comments


Ini Hape keren banget dech.. kapan masuk Indonesia nya yach... blom jelas sich... tapi coba liat dulu speknya... k-lo tertarik.. mulain sekarang kumpulin duit dech supaya k-lo udah masuk Indonesia bisa langsung beli... hehehe...

Kira-kira nich hape bakal bisa ngalahin Blackberry ato IPhone gak yach...? kita liat aja dech nanti... mendingan dibaca dulu yang satu ini....

MOUNTAIN VIEW, KOMPAS.com — Google menyebut ponsel rancangannya yang dirilis dengan nama Nexus One sebagai superphone, bukan lagi sekadar smartphone. Apa saja kelebihannya?

Ya, sejumlah fitur memang yang terdepan di jajaran ponsel, seperti prosesor 1 GHz Snapdragon buatan Qualcomm. Bahkan, Nexus One merupakan perangkat pertama yang menggunakan Android 2.1, versi teranyar sistem operasi berbasis open source yang dikembangkan Google.

Terobosan lain yang coba disediakan sebagai andalan Nexus One adalah fitur keyboard berbasis sistem pengenal suara dengan penerjemah suara ke teks. Penggunanya tak perlu mengetik untuk menulis e-mail, SMS, atau pesan di Facebook, tetapi cukup mengatakannya saja.

Layarnya juga sudah menggunakan AMOLED yang memiliki kontras rasio sangat tinggi sehingga obyek yang ditampilkan sangat jernih dan tidak terganggu cahaya luar, seperti paparan sinar matahari. Seperti perangkat Android umumnya, disediakan lima pilihan wallpaper dan lima pilihan panel yang aktif bersamaan, tetapi kali ini dengan tampilan tiga dimensi.

Selain itu, Nexus One juga begitu tipis dan ringan. Bandingkan saja, ia lebih tipis dari sebuah pensil standar dan lebih ringan dari sebuah pisau lipat Swiss standar.

Nah,
fitur apa saja yang dibenamkan dalam Nexus One sehingga disebut superphone? Berikut rincian spesifikasinya:

  • Prosesor: Qualcomm QSD 8250, 1 GHz
  • Sistem operasi: Android 2.1
  • Memori: 512 MB RAM, 512 MB ROM, dan 4GB Micro SD card (bisa ditambah hingga 32 GB)
  • Dimensi: Panjang 11,9 cm, Lebar: 5,98 cm, Tebal: 1,15 cm Berat: 130 gram
  • Layar: 3,7 inci widescreen, WVGA AMOLED
  • Kamera: 5 megapixel
  • Konektivitas: Seluler: UMTS Band 1/4/8 (2100/AWS/900) HSDPA 7.2Mbps HSUPA 2Mbps up to 5.76Mbps GMS/EDGE (850/900,1800,1900 MHz) Wi-Fi (802.11 a/b/g/n) Bluetooth 2.1 + EDR A2DP stereo Bluetooth AGPS receiver Cell tower and Wi-Fi positioning Kompas digital Akselerometer
  • Waktu bicara: 10 jam dengan 2G, 7 jam dengan 3G
  • Waktu Standby: 290 jam dengan 2G, 250 jam dengan 3G
  • Waktu Internet: 5 jam dengan 3G, 6,5 jam dengan Wi-Fi Putar
  • Video: 7 jam Putar
  • Audio: 20 jam

WAH

Klik disini untuk melanjutkan »»

Senin, 04 Januari 2010

Novel Salah Asuhan versi Belanda, yang di Indonesia versi yang mana yach...???

. Senin, 04 Januari 2010
0 comments


Lagi baca-baca berita di kompas, ada yang menarik nich.. mungkin bisa jadi bahan tambahan pengetahuan sastra kita... kalau yang selama ini beredar di Indonesia versi yang mana yach..???
ini artikel tulisannya..


"PERJALANAN
sejarah karya sastra Indonesia di masa pemerintahan Belanda sempat naik turun, pasalnya kesempatan mengembangkan kreativitas para sastrawan tetap saja dibatasi. Pembatasan ala pemerintah Belanda pernah terjadi pada karya Abdoel Moeis, Salah Asuhan. Alhasil Balai Pustaka yang kala itu di bawah pimpinan GWJ Drewes nyaris tak bersedia menerbitkan novel tersebut.

Kenapa Salah Asuhan kena "cekal"? Tak lain karena kisah yang pernah dimuat secara bersambung di harian De Express itu dinilai agak kontroversial di mata pemerintah Belanda. Padahal Komisi Bacaan Rakyat - kemudian menjadi Balai Pustaka (BP) - dibikin Belanda untuk membatasi bacaan liar yang diterbitkan penerbit pribumi.

Meski menyatakan pujian terhadap Salah Asuhan sebagai kisah yang memikat, namun Drewes tak bisa menutupi bahwa novel itu mengandung unsur "negatif" yang digambarkan pada tokoh perempuan Belanda. Maka akhirnya penerbitan novel itu perlu dipertimbangkan kembali. Drewes melihat pentokohan yang digambarkan oleh Hanafi terlalu menyudutkan pihak Belanda yang saat itu merupakan penguasa Indonesia. Jika novel tersebut dikeluarkan, dikhawatirkan akan memicu kritikan yang sulit untuk diatasi oleh BP.

Sudah tentu, sebagai direktur BP, Drewes memiliki hak untuk menerbitkan naskah menjadi buku melalui berbagai pertimbangan meskipun sejumlah redaktur pribumi di BP meloloskan karya tersebut dan menilai tidak ada hal negatif yang ada di dalam ceritanya.

Desakan BP dan keinginan Abdoel Moeis agar novelnya diterbitkan menyebabkan ia menyetujui keinginan Drewes, menuliskan kembali naskah baru Salah Asuhan terutama pada Hanafi dan Corie yang menjadi pusat dari seluruh cerita.

Dalam buku Pemahaman Salah Asuhan oleh Jamil Bakar, dijelaskan bahwa pada versi asli yang diterbitkan di harian De Express, Salah Asuhan menceritakan tokoh Corie, wanita Belanda yang menikah dengan pria pribumi bernama Hanafi. Corie diceritakan sebagai wanita pesolek yang senang dengan pergaulan bebas.

Corie bahkan berani main dengan pria lain, padahal berstatus sebagai istri Hanafi. Hanafi sudah tidak tahan dengan perilaku sang istri, ditambah dengan begitu banyak perbedaan di antara mereka, maka muncullah kata cerai. Setelah bercerai, Corie makin terjerumus dalam prostitusi dan akhirnya meninggal dunia karena ditembak mati oleh pelanggannya yang iri.

Sedangkan di novel Salah Asuhan terbitan BP, penggambaran Corie justru dibuat sebaik mungkin. Corie digambarkan sebagai wanita baik bak bidadari. Corie memang pada akhirnya meninggal dunia, tetapi sebagai perempuan terhormat. Sayangnya, kita sudah tidak bisa membaca naskah asli. Jadi naskah yang beredar kini adalah naskah yang sudah mengalami perubahan akibat tekanan pemerintah Belanda.

Meski novel ini merupakan novel perubahan dari naskah aslinya, akan tetapi Abdoel Moeis tetap memberikan pendidikan kepada pembaca saat itu melalui karyanya. Sejumlah telaah tentang Salah Asuhan memperlihatkan bagaimana pentingnya kesadaran berbangsa dan tidak meninggalkan budaya bangsa. Meski Hanafi akhirnya digambarkan sebagai tokoh negatif, pria pribumi yang mencampakkan akar budayanya dan memilih untuk menjadi warga kulit putih, namun Hanafi tetap membawa pesan moral.

Novel Salah Asuhan ditulis awal tahun 1927 ketika Abdoel Moeis sudah meninggalkan kegiatan politiknya dalam Sarekat Islam (1912-1924) dan menjadi petani di Garut sejak tahun 1924. Naskah asli Salah Asuhan dikirim ke BP oleh Abdoel Moeis pada tahun 1928. Novel ini dipengaruhi oleh faktor sosial dan politik serta kultural. (WIK)"

Klik disini untuk melanjutkan »»

Minggu, 03 Januari 2010

Selamat Tahun Baru 2010

. Minggu, 03 Januari 2010
0 comments

Kepada kawan-kawan semua, saya mengucapkan selamat tahun baru 2010, semoga di tahun yang baru ini akan lebih banyak lagi harapan dan target-target yang bisa kita capai demi untuk kepuasan kita semua.

Di tahun yang baru ini tentunya banyak harapan dan keinginan yang ditumpukan. Kiranya semua harapan dan keinginan tersebut juga melihat dengan kemampuan diri kita, agar kiranya nanti harapan dan keinginan tersebut tidak tercapai dengan sebagaimana mestinya kita dapat menerima dengan lapang hati dan jiwa besar.

Semoga di tahun yang baru ini, keberuntungan dan kejayaan menghampiri kita semua. Doa dari kita semua mudah-mudahan akan memperlancar segalanya, amien.

Sekali lagi, Selamat Tahun Baru 2010 untuk semuanya. Sukses Selalu.

Klik disini untuk melanjutkan »»
 
{nama-blog-anda} is proudly powered by Blogger.com | Template by Agus Ramadhani | o-om.com